Merayu Sepucuk Kuku
bolehkah aq menyatu dalam lipatan kitabmu?
merasuk dalam alif dan tanwin,
keluar lewat kalamullah
yang terucap lewat dzikir fikirmu?
+Neng Ratni, apa kau tau?
cahaya nurani kalbumu
membakar kelenjar-kelenjar syahwatku
ketika kau khidmat menghadap kiblat
+Oh....Neng Ratni?
izinkan aku lengkapi rusukmu!
agar sumsum tak merasa malu
+Neng Ratni?
Bunyi gampiakmu itu,
Menderu laju batinku
Memaksa kaku telingaku
Merangsang tatap mataku.
+Neng Ratni?
Sunyi kala bulan sendiri
Mati kala nadi berhenti
+Neng Ratni?
mari kita berdiskusi
mecoba memilih diksi
hingga terbentuk puisi
Yang kelak dapat berdo'a
ketika kita mati.
Pasuruan, 06 Januari 2010
09.10 - 11.50
Di Balik Kerudung Dosa
(Sebuah Catatan Rakyat Pinggiran Kota Pasuruan)
Selangkah Dzikir-dzikir kemunafikan
Terurai dari balik kerudungmu
Putih dalam balutan dan do'a
Kusam dalam rajutan dosa
Terasingkan..............
Terhinakan...............
Tercampakan............
Terlupakan...............
Tersisikan................
dalam tumpukan mutiara
Terkulai Sehelai
Benang dari kerudungmu
Setia menunggu tau
Berhujan mimpi selalu
Bulan merenung segunung
Aspal-aspal melukis goresan malam
Dinding-dinding bambu mencatat pelbagai kalimat
Sedang kasur tua berdebu itu,
Merekam desahan kenikmatan
Fatamorghana.....oh....Fatamorgana
Menipu di ujung usia selalu
di puncak menara Masjid,
di telapak tangan budha,
di dalam tetesan darah yesus,
ataukah
Tersembunyi di balik isi kain sarung?
Pasuruan, 05 Januari 2010
senja merah
menepis rasa
senja merah
mengapung dalam lukisan abstrak
tercecer dalam sajak-sajak kesangsian
senja merah
senja memerah duka
senja merah
senja memerah luka
senja merah
senja memerah kalah
senja merah
malaikat berhamburan
terbang di sela-sela awan
singgah pada ubun-ubun
menghentikan hembusan nafas
menyumbat aliran darah
menghentakkan detak jantung
senja merah
senja memerah
tangisan bergelora
do'a-do'a menggema
klimaks dari sebuah cerita
senja merah
senja memerah
malaikat menghadap khidmat
menyerakan selaut cerita
serta jawab dari tanya.
Pasuruan,04 Januari 2010
WANITA DI PERSIMPANGAN JALAN
Sebuah realita kehidupan
antara pertigaan dan perempatan
terlewat oleh nyaring klakson motor
tergilas oleh oleh roda-roda zaman
terinjak-injak dari gampiak hingga vantofel
Wanita di persimpangan jalan
Mulut membeku membatu
Mata menantang dingin malam
Sedang hati terkunci
Nurani mati
Malam menjama keheningan
Wanita dipersimpangan jalan
Dibawah remang lampu jalanan
Bersandar sebuah harapan
Pada kemaluan-kemaluan yang berterbangan
Kesunyian menari
Kesucian berlari
Wanita di persimpangan jalan
Semakin diasingkan
lewat Khotbah-Khotbah
lewat Pidato-pidato
Pemuka agama dan Pejabat negara
Burung-burung malam kembali kesarang
Wanita di persimpangan jalan
Melangkah pulang berkerudung keresahan
Bercorak warna kehinaan
Wanita di persimpangan jalan
Tulisan di atas pasir
Tersapu angin
Tinta di tengah Samudra
Deru menderu gelombang bersusulan.
IPOEL Pasuruan, 03\01\2010



09.07
SESEPI SUNYI