Senin, 03 Januari 2011

TOPENG-TOPENG SOSIAL

Merayu Sepucuk Kuku


+Neng Ratni ?
bolehkah aq menyatu dalam lipatan kitabmu?
merasuk dalam alif dan tanwin,
keluar lewat kalamullah
yang terucap lewat dzikir fikirmu?


+Neng Ratni, apa kau tau?
cahaya nurani kalbumu
membakar kelenjar-kelenjar syahwatku
ketika kau khidmat menghadap kiblat


+Oh....Neng Ratni?
izinkan aku lengkapi rusukmu!
agar sumsum tak merasa malu

+Neng Ratni?
Bunyi gampiakmu itu,
Menderu laju batinku
Memaksa kaku telingaku
Merangsang tatap mataku.


+Neng Ratni?
Sunyi kala bulan sendiri
Mati kala nadi berhenti


+Neng Ratni?
mari kita berdiskusi
mecoba memilih diksi
hingga terbentuk puisi
Yang kelak dapat berdo'a
ketika kita mati.



Pasuruan, 06 Januari 2010
09.10 - 11.50




Di Balik Kerudung Dosa

Di Balik Kerudung Dosa
(Sebuah Catatan Rakyat Pinggiran Kota Pasuruan)


Selangkah Dzikir-dzikir kemunafikan
Terurai dari balik kerudungmu
Putih dalam balutan dan do'a
Kusam dalam rajutan dosa


Terasingkan..............

Terhinakan...............

Tercampakan............

Terlupakan...............

Tersisikan................

dalam tumpukan mutiara

Terkulai Sehelai
Benang dari kerudungmu
Setia menunggu tau
Berhujan mimpi selalu

Bulan merenung segunung
Aspal-aspal melukis goresan malam
Dinding-dinding bambu mencatat pelbagai kalimat
Sedang kasur tua berdebu itu,
Merekam desahan kenikmatan


Fatamorghana.....oh....Fatamorgana
Menipu di ujung usia selalu
di puncak menara Masjid,
di telapak tangan budha,
di dalam tetesan darah yesus,
ataukah
Tersembunyi di balik isi kain sarung?


Pasuruan, 05 Januari 2010



senja merah


senja merah
menepis rasa
senja merah
mengapung dalam lukisan abstrak
tercecer dalam sajak-sajak kesangsian

senja merah
senja memerah duka




senja merah
senja memerah luka




senja merah
senja memerah kalah




senja merah
malaikat berhamburan
terbang di sela-sela awan
singgah pada ubun-ubun
menghentikan hembusan nafas
menyumbat aliran darah
menghentakkan detak jantung

senja merah
senja memerah
tangisan bergelora
do'a-do'a menggema
klimaks dari sebuah cerita

senja merah
senja memerah
malaikat menghadap khidmat
menyerakan selaut cerita
serta jawab dari tanya.


Pasuruan,04 Januari 2010


WANITA DI PERSIMPANGAN JALAN


Wanita di persimpangan jalan
Sebuah realita kehidupan
antara pertigaan dan perempatan
terlewat oleh nyaring klakson motor
tergilas oleh oleh roda-roda zaman
terinjak-injak dari gampiak hingga vantofel


Wanita di persimpangan jalan
Mulut membeku membatu
Mata menantang dingin malam
Sedang hati terkunci
Nurani mati


Malam menjama keheningan
Wanita dipersimpangan jalan
Dibawah remang lampu jalanan
Bersandar sebuah harapan
Pada kemaluan-kemaluan yang berterbangan


Kesunyian menari
Kesucian berlari


Wanita di persimpangan jalan
Semakin diasingkan
lewat Khotbah-Khotbah
lewat Pidato-pidato
Pemuka agama dan Pejabat negara


Burung-burung malam kembali kesarang
Wanita di persimpangan jalan
Melangkah pulang berkerudung keresahan
Bercorak warna kehinaan


Wanita di persimpangan jalan
Tulisan di atas pasir
Tersapu angin
Tinta di tengah Samudra
Deru menderu gelombang bersusulan.


IPOEL Pasuruan, 03\01\2010

Selasa, 28 Desember 2010

KUMPULAN PUISI Episode DINDING KAMAR

Dilema Rasa


"Dilema Rasa"

Aku melihat, di barat bulan merenung
Aspal mencatat langkah kaki langit
Awan-awan hitam semakin kelam
Menyulam diantara lampu-lampu jalanan

Akankah ada kepalsuan lagi?
Akankah ada rasa sakit lagi?

Semua penuh tanda-tanda
Semua nampak fatamorgana
Akan tetapi nayata adanya.

Di pasar
Di sekolah
Di masjid
Di gereja
Di Pura
Di sawah
Di Istanah Merdeka
dan dimana-mana

Rasa kini jadi sampah
terkikis dari logika
Rasa kini jadi darah
keluar bersama luka

Rasa......rasa.....rasa.....rasa
Percuma.....
rasa......rasa......rasa.....rasa
Sudahlah.....
katamu
kata mereka
kata siapa? saja tentunya!

Pasuruan, 051210


Bagai Musim


Bagai Musim ................
Rasa ini menjelma
Diantara tanda-tanda
Tanpa makna

Semua menggurat tipis
Semua mengakar manis
Segala terbakar habis

oh........... Rasa...........
Aku tak kuasa..........

Sudikah kiranya,
Kau Diam?

Sudikah kiranya,
kau hilang? 

Pas,10 Nop 10




DIAM ADALAH KEMATIAN BAGIKU


Tak mampu lagi tubuh ini terpaku kaku
Terdiam dalam butiran-butiran keresahan

Lama Aku jadi batu
Dalam sudut putaran waktu

Lama aku membisu
Tanpa kata dan syair lagu


Diam yang aku rasakan
Aku rasakan pula kelumpuan dalam laku kakiku

Diam yang aku rasakan
Aku rasakan pula kebekuan dalam putar otakku

Diam yang aku rasakan
Aku rasakan pula kebutaan dalam tatap mataku

Diam yang aku rasakan
Aku rasakan pula kedekatan kematian bagiku.



Pasuruan, 22 Februari 2010

Narasi Untuk "V"

Dalam jalan yang berbeda kita terhenti, menatap lurus jalan tanpa tikungan, sayang? diantara gerimis yang menjadikan kaku lakuku. Kita terdiam dalam angan yang nampak suram, kau dan aku larut dalam keheningan. Kita sama-sama bertanya pada hati kita sendiri pada ke_egoisan yang merajai pikiran kita kasih. Jalan mana yang akan kita lalui?

Senja turun pelan-pelan, gerimis ter_usir oleh hujan yang tiba-tiba datang. kita sama-sama basah dalam balutan asa. dingin merasuk, kian kaku lakuku, tapi kita sama-sama bertahan.

Hujan redah, malam menyambut penuh tawa bintang-bintang muncul bersamaan, rembulan menari di atas kepala. kau dan aku tetap membisu berdiri kaku.

Isak tangismu leburkan kakumu hancurkan batu dalam tubuhku, kau mulai melangkah pelan meninggalkanku. hancur harap dalam angan. aku seolah bangun dari tidur panjang. aku pun bertanya saat dia melangkah " Coba liatlah matamu ke angkasa? cari, bintang mana yang bersinar terang!" dia menengadahkan wajahnya ke langit lalu pelan melangkah kembali. akupun kembali berkata " Kau tak bisa menemukanya? berpaling dan lihatlah" dia berpaling melemparkan pandangannya, akupun menghampiri dan menangkap tanganya meletakkan pada dada, seraya berkata dengan tetesan air mata " Disinilah, disinilah bintang yang bersinar terang untukmu" diapun lalu pergi berlari dan hilang di telan malam dalam lurus jalan tanpa tikungan.

Untukmu "V"

Bagaimana Kau Mencintaiku?

Selaut Cinta sudah tumpah pada dirimu
Sedanau kata-kata sudah kusiramkan juga
Tapi masih tak bisa basahi hatimu?

Pada bulan aku mengadu haru
Hingga matahari menjemput pergi
Akupun nyalakan api
biar terang dan panasnya
Bakar semangatku


Bagaimana aku bisa mencintaimu?
Apa aku perlu merangkak
berjalan ikuti langkah kakimu?


Lewat angin
Aku titipkan salamku

Lewat hujan
Aku jatuhkan rinduku

Lewat sungai
Aku alirankan rasaku


Malam tak mampu hancurkan asahku
Pagi tak mampu larutkaan sayangku
Sedang gerhana tak mampu biaskan Cintaku



Pasuruan, 11 Januari 2010
Untuk Kau Yang ku Anggap Cinta
Kang Ipoel

Diam.........................


Diam yang mereka rasakan
Aku rasakan keramaian
Menggelora bak ombak samudra
Memerah senja


Teriakan yang sulit dikeluarkan
Timbulkan kebisuan
Batu membeku
menggaris liris


Diamku..............
bukan Bisu


Diamku...............
Punya makna


Dalam lukisan puisi
Tercampur dalam tinta kata
Warna irama
Tanpa bunyi dan intonasi
Hanya berupa diksi


Berbisik pada hati
Berbicara terang lampu
Di malam hari
Tiada dengar tiada tau seluruh.




Pasuruan, 10 Januari 2010


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management