Dilema Rasa
Aku melihat, di barat bulan merenung
Aspal mencatat langkah kaki langit
Awan-awan hitam semakin kelam
Menyulam diantara lampu-lampu jalanan
Akankah ada kepalsuan lagi?
Akankah ada rasa sakit lagi?
Semua penuh tanda-tanda
Semua nampak fatamorgana
Akan tetapi nayata adanya.
Di pasar
Di sekolah
Di masjid
Di gereja
Di Pura
Di sawah
Di Istanah Merdeka
dan dimana-mana
Rasa kini jadi sampah
terkikis dari logika
Rasa kini jadi darah
keluar bersama luka
Rasa......rasa.....rasa.....rasa
Percuma.....
rasa......rasa......rasa.....rasa
Sudahlah.....
katamu
kata mereka
kata siapa? saja tentunya!
Pasuruan, 051210
Bagai Musim
Rasa ini menjelma
Diantara tanda-tanda
Tanpa makna
Semua menggurat tipis
Semua mengakar manis
Segala terbakar habis
oh........... Rasa...........
Aku tak kuasa..........
Sudikah kiranya,
Kau Diam?
Sudikah kiranya,
kau hilang?
Pas,10 Nop 10
DIAM ADALAH KEMATIAN BAGIKU
Terdiam dalam butiran-butiran keresahan
Lama Aku jadi batu
Dalam sudut putaran waktu
Lama aku membisu
Tanpa kata dan syair lagu
Diam yang aku rasakan
Aku rasakan pula kelumpuan dalam laku kakiku
Diam yang aku rasakan
Aku rasakan pula kebekuan dalam putar otakku
Diam yang aku rasakan
Aku rasakan pula kebutaan dalam tatap mataku
Diam yang aku rasakan
Aku rasakan pula kedekatan kematian bagiku.
Pasuruan, 22 Februari 2010
Narasi Untuk "V"
Dalam jalan yang berbeda kita terhenti, menatap lurus jalan tanpa tikungan, sayang? diantara gerimis yang menjadikan kaku lakuku. Kita terdiam dalam angan yang nampak suram, kau dan aku larut dalam keheningan. Kita sama-sama bertanya pada hati kita sendiri pada ke_egoisan yang merajai pikiran kita kasih. Jalan mana yang akan kita lalui?
Senja turun pelan-pelan, gerimis ter_usir oleh hujan yang tiba-tiba datang. kita sama-sama basah dalam balutan asa. dingin merasuk, kian kaku lakuku, tapi kita sama-sama bertahan.
Hujan redah, malam menyambut penuh tawa bintang-bintang muncul bersamaan, rembulan menari di atas kepala. kau dan aku tetap membisu berdiri kaku.
Isak tangismu leburkan kakumu hancurkan batu dalam tubuhku, kau mulai melangkah pelan meninggalkanku. hancur harap dalam angan. aku seolah bangun dari tidur panjang. aku pun bertanya saat dia melangkah " Coba liatlah matamu ke angkasa? cari, bintang mana yang bersinar terang!" dia menengadahkan wajahnya ke langit lalu pelan melangkah kembali. akupun kembali berkata " Kau tak bisa menemukanya? berpaling dan lihatlah" dia berpaling melemparkan pandangannya, akupun menghampiri dan menangkap tanganya meletakkan pada dada, seraya berkata dengan tetesan air mata " Disinilah, disinilah bintang yang bersinar terang untukmu" diapun lalu pergi berlari dan hilang di telan malam dalam lurus jalan tanpa tikungan.
Untukmu "V"
Diam yang mereka rasakan
Aku rasakan keramaian
Menggelora bak ombak samudra
Memerah senja
Teriakan yang sulit dikeluarkan
Timbulkan kebisuan
Batu membeku
menggaris liris
Diamku..............
bukan Bisu
Diamku...............
Punya makna
Dalam lukisan puisi
Tercampur dalam tinta kata
Warna irama
Tanpa bunyi dan intonasi
Hanya berupa diksi
Berbisik pada hati
Berbicara terang lampu
Di malam hari
Tiada dengar tiada tau seluruh.
Pasuruan, 10 Januari 2010
Senja turun pelan-pelan, gerimis ter_usir oleh hujan yang tiba-tiba datang. kita sama-sama basah dalam balutan asa. dingin merasuk, kian kaku lakuku, tapi kita sama-sama bertahan.
Hujan redah, malam menyambut penuh tawa bintang-bintang muncul bersamaan, rembulan menari di atas kepala. kau dan aku tetap membisu berdiri kaku.
Isak tangismu leburkan kakumu hancurkan batu dalam tubuhku, kau mulai melangkah pelan meninggalkanku. hancur harap dalam angan. aku seolah bangun dari tidur panjang. aku pun bertanya saat dia melangkah " Coba liatlah matamu ke angkasa? cari, bintang mana yang bersinar terang!" dia menengadahkan wajahnya ke langit lalu pelan melangkah kembali. akupun kembali berkata " Kau tak bisa menemukanya? berpaling dan lihatlah" dia berpaling melemparkan pandangannya, akupun menghampiri dan menangkap tanganya meletakkan pada dada, seraya berkata dengan tetesan air mata " Disinilah, disinilah bintang yang bersinar terang untukmu" diapun lalu pergi berlari dan hilang di telan malam dalam lurus jalan tanpa tikungan.
Untukmu "V"
Bagaimana Kau Mencintaiku?
Selaut Cinta sudah tumpah pada dirimu
Sedanau kata-kata sudah kusiramkan juga
Tapi masih tak bisa basahi hatimu?
Pada bulan aku mengadu haru
Hingga matahari menjemput pergi
Akupun nyalakan api
biar terang dan panasnya
Bakar semangatku
Bagaimana aku bisa mencintaimu?
Apa aku perlu merangkak
berjalan ikuti langkah kakimu?
Lewat angin
Aku titipkan salamku
Lewat hujan
Aku jatuhkan rinduku
Lewat sungai
Aku alirankan rasaku
Malam tak mampu hancurkan asahku
Pagi tak mampu larutkaan sayangku
Sedang gerhana tak mampu biaskan Cintaku
Pasuruan, 11 Januari 2010
Untuk Kau Yang ku Anggap Cinta
Kang Ipoel
Sedanau kata-kata sudah kusiramkan juga
Tapi masih tak bisa basahi hatimu?
Pada bulan aku mengadu haru
Hingga matahari menjemput pergi
Akupun nyalakan api
biar terang dan panasnya
Bakar semangatku
Bagaimana aku bisa mencintaimu?
Apa aku perlu merangkak
berjalan ikuti langkah kakimu?
Lewat angin
Aku titipkan salamku
Lewat hujan
Aku jatuhkan rinduku
Lewat sungai
Aku alirankan rasaku
Malam tak mampu hancurkan asahku
Pagi tak mampu larutkaan sayangku
Sedang gerhana tak mampu biaskan Cintaku
Pasuruan, 11 Januari 2010
Untuk Kau Yang ku Anggap Cinta
Kang Ipoel
Diam.........................
Aku rasakan keramaian
Menggelora bak ombak samudra
Memerah senja
Teriakan yang sulit dikeluarkan
Timbulkan kebisuan
Batu membeku
menggaris liris
Diamku..............
bukan Bisu
Diamku...............
Punya makna
Dalam lukisan puisi
Tercampur dalam tinta kata
Warna irama
Tanpa bunyi dan intonasi
Hanya berupa diksi
Berbisik pada hati
Berbicara terang lampu
Di malam hari
Tiada dengar tiada tau seluruh.
Pasuruan, 10 Januari 2010



03.32
SESEPI SUNYI
0 komentar:
Posting Komentar